Selasa, 30 Juli 2013

Puisi kecilku


Anakku...

Ibu tak pernah lupa, betapa hangatnya masa-masa kau dalam pelukku dulu.

Napasmu begitu harum, pipimu begitu lembut, dan entah berapa juta kali sudah ibu mencium pipimu kala itu.

...kini ibu ingin mengulang kala itu, ibu rindu, rindu kala kita selalu bersama.

Masihkah kau ingat kala kita sedang di dapur bersama? Kita sedang memasak sayur kesukaan kita. kita punya selera memang sederhana, resep sederhana, dan kita mendapatkannya dengan cara sederhana pula. Ingatkan, di kebun belakang rumah kita? Di sana ada sebatang pohon pepaya yang tumbuh dengan buahnya yang lebat. Buah itu kesukaan ibu, kesukaanmu juga.

Ibu hampir tak bisa lupa kala melihat tingkahmu saat membantu ibu memasak sayur oseng pepaya, kau yang meng-oseng2 bumbunya kala ibu sedang menumis, ibu bilang jangan, nanti kena panas. Tapi kau tak pernah takut, malah laju ngambek jika ibu terus melarangmu.

Anakku, tak ada yang special di menu kita, tapi kebersamaan waktu itu cukup sudah melengkapi segala rasa. Ibu sering tersenyum sendirian kala mengingatnya, kita punya kesukaan yang sama, punya selera yang sama, dan punya sifat yang sama ; sama-sama ngeyelnya. =D

Anakku, ibu tahu. Betapa hancurnya hatimu ketika tak lagi kau temukan ibu di sisimu, ibu sudah dapat membayangkan seperti apa duniamu kala itu, menangis, meraung, dan kebingungan mencari ibu.

Anakku, Ibupun juga sedih meninggalkanmu. Kala itu kau masih kecil, yang kau tahu ibulah kekasih setiamu yang selalu memelukmu. Tapi ibu berubah menjadi orang yang jahat yang meninggalkanmu begitu saja. Maafin ibu ya, Nak. ibu memang jahat, jahat kerana telah meninggalkanmu. Tapi ibu janji. ibu akan membahagiakanmu kelak. Bilang pada ibu, Nak. Kamu rindukan dengan resep masakan ala sederhana kita? Ia itu tumis pepaya muda yang di masak pakai bumbu suka cita? Kita akan memasaknya lagih nanti. Dan kita akan memasaknya dengan resep yang lebih special lagih.

Anakku, kini empat tahun sudah kita berpisah, ibu selalu membayangkan seberapa besar dirimu dalam pelukku nanti? Ibu selalu membayangkan itu. Tak cukup rasanya hanya mengira2 berapa tinggi badan, berat badan walau pun ibu sudah tahu itu.

Hehehe.., ibu tersenyum sendirian, kala ibu ingat. Waktu itu kau mulai suka mandi sendiri, gosok gigi sendiri, dan cuci muka sendiri. Kau tahu apa yang kau lakukan? Kau menipu ibu. Saat menggosok gigi kau membelakangi ibu, dan kulihat kepalamu geleng-geleng disana, kukira kau sedang menggosok gigi , tapi setelah ibu periksa kok ngga ada bekasnya? Ah, ternyata kau Cuma geleng-geleng doang! Dan lagi, ketika kau mandi, kau tutup rapat pintu kamar mandi, dengan galak kau usir ibu yang sedang ingin memandikanmu. kau bilang, `Aku bisa mandi sembiri, Mak! Tapi setelah ibu intip ternyata yang dimandiin Cuma perutnya saja, dan begitupun saat cuci muka, yang di sabun Cuma pipinya saja.

Eit..! Tenang, Nak. Ibu tak marah kok dicurangin, bagi ibu anak ibu tetep yang nomor satu, karena umur 3 tahun sudah bisa mandi sembiri =D.

Kau tahu, Nak. Di luaran sana, masih banyak anak-anak yang tak tahu cara mandi, cuci muka atau gosok gigi. Kebanyakan mereka adalah anak yang manja, sebagian pula mereka memang tak mendapatkan itu. Nak, kita termasuk orang yang paling beruntung di dunia ini.

Nak, kau tahu? Ibu punya segudang cerita yang akan ibu ceritakan padamu. Agar kau tahu, bahwa hidup di dunia ini kita tidak bisa berhenti untuk terus belajar. Karena kehidupan dan keadaan selalu saja ber-ubah. Anakku, kau harus tahu itu.


Waktu..


Waktu bisa melupakan
Bahkan berubah kejam
Waktu adalah nafas panjang
dan Waktu adalah kesempatan
Yang tak kenal apa itu arti persahabatan
Waktu mungkin kini telah merubah
Kau dan Aku..

            lissa.com.