Jumat, 23 November 2012

Buku Ayat-Ayat Rindu





       Cinta, memiliki porsi tersendiri dalam sebuah karya sastra. Milyaran kata-kata mungkin sudah terlahir dari apa itu yang dinamakan cinta. Baik itu cinta hanya sekadar diucap, atau cinta yang benar-benar dirasa. Ia memiliki kekuatan makna dari kodrat lahiriah (ditulis) dan batiniah (diucap), karena itulah – kata-kata dalam mengekspresikan cinta itu tidak akan pernah ada habisnya.

****

Seperti dalam kumpulan puisi Ayat-Ayat Rindu yang ditulis oleh Lissa Alissa dan kawan-kawan, merupakan suatau bukti betapa cinta telah banyak melahirkan kata-kata yang terangkai dari puisi satu ke puisi yang lainnya. Meski setiap puisi memiliki benang merahnya sendiri, tetapi setiap puisi yang ada dalam buku ini tetap memiliki kekuatan kodrat lahiriah batiniah, yaitu; CINTA..*

Penulis Lissa Alissa dan 45 penyair Indonesia dari luar dan dalam negri.

Awal Buku Ayat-Ayat Rindu tercipta adalah dari sebuah ide yang mengajak para penyair dari tanah air dan luar negri yang bergabung dalam undangan menulis puisi yang di adakan oleh Lissa Alissa, acara undangan menulis puisi ini di gelar selama satu bulan di jejaring sosial facebook dan jejaring sosial lain seperti twitter, blogger dan yahoo group. Telah terkumpul 341 puisi selama dalam acara penerimaan naskah puisi tersebut, dan atas kerja samanya Lissa Alissa dan Putra Gara penulis novel sejarah Samudra Pasai sebagai kuratur puisi telah terjaring 45 puisi dari 341 puisi yang masuk ke meja panitia

Ayat-ayat Rindu memiliki makna yang sangat berarti bila dijadikan judul buka. Karena ayat-ayat adalah kata-kata atau kisah, atau cerita yang memiliki makna. Sedangkan rindu sendiri adalah mutiaranya cinta. Rindulah yang menghidupkan cinta. Jadi Ayat-ayat Rindu memiliki makna: untaikan kata penuh makna, dari mutiaranya cinta. [ Putra Gara]

Ayat-Ayat Rindu memang cocok menjadi judul buku ini. karena bait-bait dari puisi-puisi yang terkandung  dalam buku ini dialiri  kata-kata yang bernafaskan aroma rindu yang merindu dar sang perindu. Judul buku ini di ambil dari judul puisi dari salah satu peserta terbaik ia itu puisi ayat-ayat rindu dari Lauh Sutan Kusnandar,  terangkum dalam buku puisi cinta, Ayat-Ayat Rindu menjadi bacaan hangat untukmu yang selalu merindu..[ Lissa Alissa]

. Kontributor;


1.    Dewi Suci Mawarni

2.    Ria AS

3.    Lasinta Ari Nendra Wibawa

4.     Hamdani Chamsyah

5.    Arista Devi

6.    Megandarisari

7.    Lissa Alissa

8.    Nenny Magmun

9.    Unis Sagena Hasyim

10. Imam Apriansyah

11. Bunga Ramadhani

12. Ratih Pujianti

13. Aulia Ni`ma Hayati

14. Vinny Erika Putri

15. Melza Nofa

16. Dimas Indianto S

17. Puspita Ann

18. Faihah Zahrah

19. Khalifardy Migdarsah

20. Annisa Ramadona

21. Muhammad Lefand

22. Pilo Poly

23. Bintang Pradipta

24. Irwanti Hadnus

25. Bagus Burham

26. Hn Lulu

27. Lauh Sutan Kusnandar

28. Ivonny Maria Dasilva

29. Morgan Qotrun Liansyah Putra

30. Palupi Jatuasri

31. Nening S Mahendra

32. Jack Efendi

33. Wendi Isnandar

34. Thawafi Arofanti

35. Lidya

36. Erma Retang

37. Nurdinilah Ade Katari

38. Nyi Penengah Dewanti

39. Askar Marlindo

40. Siti Fatimah Sitepu

41. Viny Alfiyah

42. Purwanto Jendral Semangat

43. Preman Pandu

44. Vita Ayu Kusuma Dewi

45. Wiriyanto Aswir


5. Arista Devi
6. Megandarisari
7. Nenny Magmun
8. Unis Sagena Hasyim
9. Imam Apriansyah
10. Bunga Ramadhani
11. Ratih Pujianti
12. Aulia Ni`ma Hayati
13. – Vinny Erika Putri
14. Melza Nofa
15. Dimas Indiyanto S
16. Puspita Ann
17. Faihah Zahrah
18. Khalifardy Migdarsah
19. Annisa Ramadona
20. Muhammad Lefand
21. Pilo Poly
22. Bintang Pradipta
23. Irwanti Hadnus
24. Bagus Burham
25. Hn Lulu
26. Lauh Sutan Kusnandar
27. Ivonny Maria Dasilva
28. Morgan Qotrun Liansyah Putra
29. Palupi Jatuasri
30. Nening S Mahendra
31. Jack Efendi
32. Wendi Isnandar
33. Thawafi Arofanti
34. Lidya
35. Erma Retang
36. Nurdinilah Ade Katari
37. Nyi Penengah Dewanti
38. Askar Marlindo
39. Siti Fatimah Sitepu
40. Viny Alfiyah
41. Purwanto Jendral Semangat
42. Preman Pandu
43. Vita Ayu Kusuma Dewi
44. Wiriyanto Aswir
45. Lissa Alissa

Sabtu, 20 Oktober 2012

Pengumuman 10 Terbaik dalam Undangan Menulis Puisi Cinta


Pengingat Penulis

 

Hidup memang tiada yang sempurna, setiap kekurangan selalu memiliki kelebihan dan  setiap kelebihan selalu diiringi dengan kekurangan. Puncak kejayaan pun tak selalu memberikan kepuasan, karena kepuasan itu ibarat pelangi yang memberikan aneka warna-warni  ceria yang sesaat, kemudian  hilang kala perubahan cuaca menghapus dan mengganti  warna-warnanya dengan warna-warni kelabu bahkan bermendung gelap, begitulah suasana hati dalam setiap kondisi. Dan semua itu adalah bagian dari  bagaimana kita memahami sikap pencapaian dengan apa yang telah diraih. Sedih, suka, duka, bahagia selalu beriringan.

Bersyukur dengan apa yang telah diraih sikap ini yang mampu menepis segala rasa dengki dan iri dendam, angkuh,  karena kekurangan dan kelebihan itu dimiliki selalu sejalan dan beriringan. Bersyukur dengan apa yang telah tercapai dan dimiliki itulah tempatnya hati yang damai.

Namun apalah daya yang namanya manusia telah memiliki segala sikap yang beraneka untuk meng-expresikan segala sesuatu yang menjadi keinginan, harapan dan impian telah menjadi fitrahnya manusia memiliki rasa tak puas, sehingga banyak yang berlomba-lomba mengejar pencapaian dan kepuasan dan kesuksesan. Hiiiii hiiiii..., kok jadi bahas masalah ini.. ngerriii.... ngeriii... lagi  puyeng omongan kadang suka ngelantur.

Terus apa hubungannya dengan kelebihan dan kekurangan dalam edisi love poems iiiiiini? Dalam bincang-bincang kesunyian, hati pun bertanya, ada apa dengan saya?  yang punya hajatan kebanjiran sumbangan puisi ciiiinntaaa malah puyeng, kuraturnya mabok.

 peserta undangan sangat berantosias dalam menulis dan mengirimkan puisi terbaiknya hingga melebihi batas ketentuan, Duh...,  jadi pusing dan mabuk di lautan puisi hiks.., puisinya disini biografi penulis ada dikampung sebelah, mengejarnya hingga terpontil-pontil.  Namun yang pasti  ini adalah suatau kehormatan bila tamu undangan telah banyak yang berpartisipasi dalam menulis dan mengirimkan puisi-puisi terbaiknya, itu mungkin kelebihannya, masak mau ditolak?

Kebiasaan, bangsa Indonesia raya yang di anggap adil dan beradap.  Tapi, ketentuan bukan untuk dilanggar kan..?

“ Mbaaaak....., kok banyak penulis yang mengirimkan puisiiii lebih dari ketentuan kan jumlahnya dibatasin ....?” Duuuhh...., binguuuungg dech gua, ingin pegangan tepian tangga kok udah pada reot, takut sempal. Jemari menyetuh keybord pun jadi gemetarr.., gih gih gih gih...

“ Duh.., plend.., mengirim naskahnya cukup sekali dech plizz.., jangan dikirim berulang-ulang.” Ternyata sidia lagi-sidia lagi. Ingin teriak, tapi teriaknya kok  sama gambarnya Ariel? Yah.., dia mah jarang senyumnya, orang gambarnya melongo gitu. Ikut-ikutan heran si Ariel hiks..,

Inilah mungkin kelebihannya di balik edisi puisi ciiiinta? Para peserta yang memiliki jiwa semangat 45 yang tak pernah padam. Semangat yang teruuss berkoobarrrrrrr...

Belum lagi bila saya mendapat pujian dari Kakak tersayang, dengan nyaringnya beliau memujiku “ Duh.., adikku kamu tuh manisss...,poloooosss bangeett..,”  mendengar pujiannya yang pertama aku merasa tersanjung-sanjung, seolah aku adalah wanita terbaik sejagat raya, senyum-senyum aku sudah bahagia sekali mendengar pujian itu,  tapi mendengar pujiannya selanjutnya aku rasakan dunia seperti dalam gempa, menggoyang hati dan perasaanku. “ Bodohnya kamu tu loh Dek..., kok di pelihara.”

Maklum, punya kakak lulusan S3, sementara adiknya SD saja gak lulus, ya passttiii jauuuuhhhh... beda wawasannya. Masih untung adik mau belajar Kak.., waktu istirahat digunakan sebaik-baiknya untuk belajar menulis dan tak perdulikan capek. Itu  dulu.. loh..., tapi  kalau sekarang banyak waktu istirahat di gunakan sebaik-baiknya untuk tertiduurr, nah inilah mungkin juga bagian dari kekurangan dan kelebihan yang selalu beriring-iringan.

“ Mbak.., naskah yang lolos dan diterbitkan apakah akan mendapat royalty?” Duh..., jadi garuk-garuk sikel [ kaki]

Setelah mempelajari event ini, ternyata membutuhkan modal yang banyaaaaakkk..., cover yang sudah dipesan itu tak gratiiisss. Maunya di ganti lagi, Jedot kepala, uang dari mana buat cover baru lagi.? persiapan pemberian sertifikat sebagai penghargaan itu juga harus bayarr.., lah.., uang dari mana lagi? Siapa yang mau tanggung kalau gak pada nunjuk hidung gua sebagai panitia hajatan. hahaha.. baru tahu rasa.!

Tahukan terbitan indie, biaya terbit ditanggung penyelenggara, yah.., kalau buku banyak yang pesan, kalau gak tentu gak balik modalkan? Alias rugi. Untuk dari itu... dikarenakan buku ini diterbitkan secara indie seluruh peserta yang naskahnya terpilih tidak mendapat ROYALTY.

“ Mbak Panitia, pengumuman naskah terpilih kapan?

Lah.., Mbak panitia malah gak jawab, mau jawab harus colek kuraturnya dulu hiks.., pasal pengumuman naskah terbaik ada di tangan Bang kuratur.

Lah..., malah kuraturnya lagi sibuk, padat dengan jadwal-jadwal yang gak bisa ditunda.  Maklum saja, kuratur edisi puisi ciiiiiiiin kali ini adalah orang yang saaangaaattt....sibuk, jadi peserta diharap sabar.

 Kalau diibilangin katanya Pak Sabar sudah pindah, Bu Sabar juga sudah pergi. Duuuhhh....., paksa saja. "Bang Kuratur...., ayo pus up.!" huufff...

 LELAH... DAN TERENGAH-ENGAH.

Dan dengan merenungkan agar tak mengecewakan peserta undangan, kami satukan hati, fikiran dan ide untuk memberikan dispensasi pada beberapa peserta yang mengirim naskah lebih dari ketentuan namun layak untuk dibukukan, jadi naskah tidak ada yang di dis semua masuk dan telah dibaca oleh Opa Gara. Berikut ini adalah puisi-puisi yang terjaring: 

43 Puisi yang Terjaring

 

1.    Sebait Rindu – Dewi Suci Mawarni

2.    Seribu Kamu – Ria AS

3.    Langkah Bermuara Lelah – Lasinta Ari Nendra Wibawa

4.    Menunggu Pesan Hujan - Hamdani Chamsyah

5.    Membaca Cinta – Arista Devi

6.    Tentang Sebuah Ahir – Megandarisari

7.    Perjalanan Cinta – Nenny Magmun

8.    Bukan Puisi Cinta – Unis Sagena Hasyim

9.    Reruntuhan Kecupan yang Menjatuhi Gambarmu – Imam Apriansyah

10. Semacam Cinta – Bunga Ramadhani

11. Cinta tak Berwajah – Ratih Pujianti

12. Senandung Rindu – Aulia Ni`ma Hayati

13. Dua Sisi Cinta – Vinny Erika Putri

14. Kamu – Melza Nofa

15. Gerimis Senja – Dimas Indiyanto S

16. Metrix – Puspita Ann

17. Selaput Cinta – Faihah Zahrah

18. Terpesona Matahari – Khalifardy Migdarsah

19. Menunggu Mantra – Annisa Ramadona

20. Kutitip Air Mata Pada Hujan – Muhammad Lefand

21. Pertemuan – Pilo Poly

22. Cerita Bingkai – Bintang Pradipta

23. Sosok Dibawah Angin – Irwanti Hadnus

24. Romantika Aku Dia – Bagus Burham

25. Melukis Rindu – Hn Lulu

26. Ayat-Ayat Rindu – Lauh Sutan Kusnandar

27. Peluh Rindu – Ivonny Maria Dasilva

28. Pada Sebuah Kertas – Morgan Qotrun Liansyah Putra

29. Disudut Rindu – Palupi Jatuasri

30. Pohon Cinta – Nening S Mahendra

31. Sudah Semestinya – Jack Efendi

32. Akar Rindu – Wendi Isnandar

33. Stasiun Biru – Thawafi Arofanti

34. Sedetik Lagi - Lidya

35. Abadi – Erma Retang

36. Menyapa Dalam Merindu - Nurdinilah Ade Katari

37. Puncak Langit – Nyi Penengah Dewanti

38. Pujangga Penjelajah Malam – Askar Marlindo

39. Pulau Cinta – Siti Fatimah Sitepu

40. Cinta Sang Ilmuwan – Viny Alfiyah

41. Pegang Teguh – Purwanto Jendral Semangat

42. Rindu – Preman Pandu

43. Asing Dalam Cinta – Vita Ayu Kusuma Dewi

44. Perahu Kertasku - Wiriyanto Aswir
 

10 Puisi Terbaik



1.    AYAT-AYAT RINDU  - Oleh: Lauh Sutan Kusnandar

2.    PADA SEBUAH KERTAS - Oleh : Morgan Qotrun Liansyah Putera

3.    SERIBU KAMU – Ole : Ria AS

4.    LANGKAH BERMUARA LELAH - Oleh : Lasinta Ari Nendra Wibawa

5.    MENUNGGU PESAN HUJAN - Oleh:  Hamdani Chamsyah

6.    TERPESONA MATAHARI - Oleh : Khalifardy Miqdarsah

7.    MENUNGGU MANTERA - Oleh : Annisa Ramadona

8.    KUTITIP AIR MATA PADA HUJAN - Oleh Muhammad Lefand

9.    SEDETIK LAGI – Oleh : Lidya

10. SENANDUNG RINDU - Oleh Aulia Ni’ma Hayati

 

 

Keputusan ini tidak bisa di ganggu gugat. Dan untuk puisi yang tidak terdaftar dalam seleksi kali ini silahkan untuk di ambil kembali, terima kasih untuk kerja samanya, salam cinta dan penuh kasih sayang Muuuaaacchh...

Tertanda ;

penyelenggara

Lissa Alissa

Kuratur

            Putra Gara